Ikutilah seperti resminya padi . . . semakin berisi tunduk ke bumi . . . semakin berilmu merendah diri . . . itu sifat yang terpuji . .
English German Dutch Italian Russian Greek French Spanish Arabic Korean Japanese Chinese Indonesian

Selasa, 24 November 2009

Mengelola Ketidak Sempurnaan


Apa lagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad saw. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia terbagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi Muhammad saw? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan hati setelah ia direbut Utsman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi setelah ia direbut habis oieh Aisyah?

Kita hanya berbagi pada sedikit yang tersisa dari pesona jiwa raga yang telah direguk habis oleh para nabi dan orang shalih terdahulu. Karena itu persoalan cinta kita selalu permanen begitu: jarang sekali pesona jiwa raga menyatu secara utuh dan sempura dalam diri kita.

Pilihan-pilihan kita, dengan begitu, selalu sulit. Ada lelaki ganteng atau perempuan cantik yang kurang berbudi. Sebaliknya, ada lelaki saleh yang tidak menawan atau perempuan salehah yang tidak cantik. Pesona kita selalu tunggal.

Padahal cinta membutuhkan dua kaki untuk bisa berdiri dan berjalan dalam waktu yang lama. Maka tentang pesona fisik itu Imam Ghazali mengatakan, “Pilihlah istri yang cantik agar kamu tidak bosan.” Tapi tentang pesona jiwa itu Rasulullah saw bersabda, “Tapi pilihlah calon istri yang taat beragama niscaya kamu pasti beruntung.”

Persoalan kita adalah ketidaksempurnaan. Seperti ketika dunia menyaksikan tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles.

Dua setengah milyar manusia menyaksikan pemakamannya di televisi. Semua sedih. Semua menangis. Puteri yang pernah menjadi trendsetter kecantikan dunia dekade 80-an itu rasanya terlalu cantik untuk disia-siakan oleh sang pangeran. Apalagi Camila Parker yang menjadi kekasih gelap sang pangeran saat itu, secara fisik sangat tidak sebanding dengan Diana.

Tapi tidak ada yang secara objektif mau bertanya ketika itu. “Kenapa akhirnya Charles lebih memilih Camila, perempuan sederhana, tidak bisa dibilang cantik, dan lebih tua, ketimbang Diana, gadis cantik berwajah boneka itu?”

Jawaban Charles mungkin memang terlalu sederhana. Tapi itu fakta. “Karena saya lebih bisa bicara dengan Camila.”

Kekuatan budi memang bertahan lebih lama. Tapi pesona fisik justru terkembang di tahun-tahun awal pernikahan. Karena itu ia menentukan.

Begitu masa uji cinta selesai, biasanya lima sampai sepuluh tahun, kekuatan budi akhirnya yang menentukan sukses tidaknya sebuah hubungan jangka panjang. Dampak gelombang magnetik fisik berkurang atau hilang bersama waktu.

Bukan karena kencantikan atau ketampanan berkurang. Yang berkurang adalah pengaruhnya. Itu akibat sentuhan terus-menerus yang mengurangi kesadaran emosi tentang gelombang magnetik tersebut.

Apa yang harus kita lakukan adalah mengelola ketidaksempurnaan melalui proses pembelajaran.
Belajar adalah proses berubah secara konstan untuk menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu.

Fisik mungkin tidak bisa dirubah. Tapi pesona fisik bukan hanya tampang. Ia lebih ditentukan oleh aura yang dibentuk dari gabungan antara kepribadian bawaan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Ketiga hal itu biasanya termanifestasi pada garis-garis wajah, senyuman dan tatapan mata serta gerakan refleks tubuh kita. Itu yang menjelaskan mengapa sering ada lelaki yang tidak terlalu tampan tapi mempesona banyak wanita. Begitu juga sebaliknya.

Itu jalan tengah yang bisa ditempuh semua orang sebagai pencinta pembelajar. Karena pengetahuan dan pengalaman adalah perolehan hidup yang membuat kita tampak matang. Dan kematangan itulah pesonanya. “Sebab, setiap kali pengetahuan kita bertambah,” kata Malik bin Nabi, “wajah kita akan tampak lebih baik dan bercahaya.”

<<== Majalah Tarbawi edisi 124 ==>>

Keep Istiqamah n Smile ^_^



Bookmark and Share

Minggu, 11 Oktober 2009

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Kalo qta ga tau kapan dan di mana akan mati, trus knp qta ga introspeksi diri terus-menerus???

Selalu berusaha membenahi kekurangan-kekurangan, bertaubat dengan segera setelah melakukan kesalahan.

Karena bisa jadi qta akan dipanggil menghadap kepada ALLAH Ta’ala saat sedang bertaubat dan menyesali kesalahan, trus qta menghadap kepada-Nya seakan-akan ga pernah berbuat dosa dan kesalahan. Bahkan semua dosa dan kesalahan akan menjadi kebaikan.

Ini cara mudah untuk bermuhasabah (introspeksi diri) :

1) Setelah meletakkan kepala di atas bantal, lalu membaca do’a-do’a sebelum tidur, segeralah mengingat segala hal yang sudah qta lakukan di siang hari itu. Meliputi amal dan aktifitas yang baik dan buruk.

2) Mulai dgn hal2 yg berkaitan dengan syahadat, shalat, zakat, sedekah, lalu hal2 yg berkaitan dgn rukun iman, iman kepada takdir yang baik maupun buruk, dst.
Kalo ternyata ga ada masalah, ucapkanlah ALHAMDULILLAH. Tapi kalo da masalah, ucapkan TA’AWUDZ, minta perlindungan kepada ALLAH Ta’ala dari gangguan syetan, beristighfar, bertaubat, dan menangislah di hadapan ALLAH. Semoga ALLAH menerima taubat qta. Dan berniat utk tidak mengulanginya lagi. Lalu tidurlah dalam keadaan taubat.

3) Setelah mengingat-ingat hal2 yang berkenaan dengan hak ALLAH, lanjutkan dgn mengingat-ingat hal2 yg berkaitan dengan hak makhluk ALLAH: orang tua, keluarga lain, sahabat, teman, sodara seiman. Kalo kita blm bisa menunaikan hak2 mereka dari kita dengan baik, bertaubatlah. Dan meminta maaf dan meminta keikhlasan mereka untuk memaafkan qta. Jangan lupa, hak hewan dan tumbuhan di sekitar kita pun jgn sampai terabaikan.

Mungkin qta bertanya, apa guna muhasabah singkat ini ?
Sungguh, manfaat dari muhasabah ini adalah jika ALLAH Ta’ala menakdirkan qta meninggal malam itu, maka qta akan menghadap kehadirat-NYA dalam keadaan telah bertaubat. Tapi, kalo ALLAH takdirkan qta bisa menghirup udara segar di esok harinya, maka manfaatnya adalah :

1) Mungkin qta akan inget bahwa qta telah berjanji kepada ALLAH Ta’ala dan kita sudah bermuhasabah, maka qta akan menghindari dari kesalahan sebelum terjerumus ke dalamnya.
2) Atau mungkin ketika kita terjerumus kembali, kita bertaubat lagi. Jadi, setiap kita melakukan kesalahan di siang hari, maka bertaubat di malam hari sampai kita malu terhadap ALLAH setelah berkali-kali bertaubat.

Sungguh, taubat dan penyesalanmu merupakan ibadah yang akan mendatangkan pahala kepadamu, amin.

Imam Hasan Al-Bashri berkata, ” Seorang mukmin adalah panglima untuk dirinya sendiri, ia mengatur dan menginspeksi dirinya sendiri karena mengharap Keridhaan ALLAH Ta’ala”.

(sumber : Buku Kesaksian Seorang Dokter, dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP)

diambil dari notes seorang teman. Syukran. SEMANGAT....!!!! ^_^

Rabu, 09 September 2009

Hidup Untuk Berprestasi


SEGALA puji bagi Allah Swt. Shalawat dan salam semoga tercurah selalu bagi Rasulullah saw panutan kita, pribadi mulia yang menjadi jalan untuk membangunkan dan menuntun hati nurani kita menjadi cahaya bagi segala perbuatan mulia.

Hidup adalah untuk mengukir prestasi yang bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti. Untuk itu kita harus mampu memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang ada agar tidak terbuang sia-sia. Untuk menjadi orang yang berprestasi, setidaknya ada dua hal yang harus kita perhatikan, yakni:

Pertama, selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nama baik, karena nama baik akan membentuk citra positif bagi kita di masyarakat sehingga orang lain mau membuka diri dan bekerja sama dengan kita.

Kedua, selalu berusaha sekuat tenaga untuk menambah wawasan dan mengembangkan keilmuan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kita dan orang lain, usia yang terus bertambah bukan menjadi halangan bagi seseorang untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang tidak pernah memperhitungkan nama baik dengan bersikap tidak jujur, licik, janji tidak ditepati, tidak disiplin, berdusta dan berkhianat, maka hal tersebut akan merugikan diri sendiri dan dengan sendirinya akan menghancurkan kredibilitas kita di masyarakat sehingga kehadiran kitapun tidak akan diperhitungkan.

Sudah menjadi suatu keharusan bagi siapapun untuk terus menerus menggalang potensi kekuatan yang ada pada dirinya. Hal tersebut akan terlaksana apabila kita mulai menerapkan kedisiplinan pada diri sendiri. Untuk memaksimalkan potensi diri, membiasakan diri untuk tidak bergantung pada orang lain dan selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Kita harus selalu berusaha untuk mengoptimal kemampuanya dengan seluruh daya upayanya sehingga menjadi manusia unggul yang delalu berkarya dengan diiringi amar ma’ruf nahi munkar. Setiap manusia berpotensi untuk menjadi orang yang professional dibidangnya .

Untuk itu haruslah ditegakkan disiplin tinggi dalam ibadah, disiplin dalam waktu, disiplin dalam ketertiban, disiplin dalam menjalankan peraturan dan tugas serta hal-hal lainya yang positif. Sungguh siapa pun yang tidak memiliki disiplin dalam melaksanakan suatu program, tidak akan ada maknanya dan tidak akan bermanfaat bagi dirinya apalagi bagi orang lain.

Kita harus bermental baja, pantang menyerah, pantang mengeluh dalam menghadapi hambatan apa pun, tidak melakukan suatu pekerjaan dengan setengah-setengah, selalu berusaha melakukan yang terbaik, antisipatif terhadap perubahan dan selalu siap menyikapi perubahan. Jadikan hari kita sebagai hari-hari berkualitas, berharga tinggi di depan Allah, jam demi jam maupun detik demi detik berharga sangat tinggi di hadapan Allah. Oleh karena itu tidak patut bermalas-malas atau melakukan sesuatu yang sia-sia. Semoga perjalanan kita di bulan Ramadhan ini dapat menggoreskan makna bahwa hidup adalah untuk berprestasi, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat. Wallahua'lam.

Kamis, 13 Agustus 2009

Menyambut Ramadhan

Assalamu'alaikum wr wb

Puasa menjelang . . .
Bulan nan agung bertabur rahmat dan hidayah kan datang
menanti mereka yang terusik untuk meraih kemenangan
menggapai sebuah keimanan yang nyata

Tak luput dosa dan noda terbawa
dalam melakoni hidup di dunia
berbaur menjadi sebuah bercak hitam
yang tak mungkin akan terabaikan

Hasrat hati berpadu rasa
menjelma menguraikan sebuah keinginan yang ada
hati bermunajat, nurani berdoa
memohon sebuah ke ikhlasan yang terpancar

Tak ada kata yang patut diserap
selain kata maaf dan suka cita
menyambut hari bahagia
menuju kesempurnaan yang nyata

Maaf kan atas dosa yang terbawa
yang menyakiti hati dan nurani terdalam
tak ada terbersit keinginan 'tuk menyakiti
yang ada hanya rasa kemanusiaan yang menjelma.

Semoga di hari yang suci ini
kita bisa mengabdi dengan niat yang suci
Semoga Allah memberikan jalan penuh arti
dalam mencapai sebuah terminal sejati


Meskipun kita belum pernah bertatap muka, belum pernah berjabat tangan.., tapi mungkin dari beberapa postingan saya disini ada yg dirasa tidak berkenan di hati saudara-saudara sekalian, untuk itu ijinkan lah saya untuk memohon MAAF LAHIR DAN BATHIN dalam menyambut bulan Ramadhan, semoga semua amal dan ibadah kita di Bulan Ramadhan nanti menjadikan kita pribadi yang bersih.

Amiin.


wassalam.

Senin, 27 Juli 2009

Marhaban Yaa Ramadhan

Seandainya seorang tamu yang anda cintai dan anda muliakan menghubungimu dan mengabarkan bahwa dia akan datang kepadamu dan akan tinggal disisimu selama beberapa hari, maka tentu saja anda akan senang dan bahagia, oleh karena itu anda akan bersiap-siap untuk menyambut kunjungan tamu yang anda cintai itu serta melakukan apa yang anda sanggupi mulai dari mengatur dirimu sendiri, membersihkan rumah dan mempersiapkan acara baginya selama anda menjamunya.

Maka bagaimana pendapatmu wahai saudaraku yang tercinta jika tamu yang datang ini bukan hanya dicintai olehmu bahkan dia kecintaan Allah dan Rasul-Nya serta seluruh kaum muslimin ? Bagaimana jika tamu ini membawa kebaikan dan keberkahan ?

Dia adalah bulan Ramadhan yang mulia. Bulan Qur’an dan puasa, bulan tahajjud dan tarwih, bulan kesabaran dan ketaqwaan, bulan rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang diborgol padanya syaitan, ditutup pintu-pintu neraka dan dibuka pintu-pintu syurga. Kita memohon kepada Allah untuk mendapatkan keutamaan bulan tersebut. Bulan yang digandakan padanya kebaikan dan ketaatan, bulan yang didalamnya terdapat pahala-pahala yang agung dan keutamaan-keutamaan yang besar.

Maka sangat pantas bagi setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu yang agung ini untuk menyambutnya dengan sambutan yang sebaik-baiknya dan bersiap-siap untuk menyambutnya dalam bentuk amaliyah agar meraih manfaat yang sangat agung sehingga keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan ruhnya telah suci dan jiwanya telah bersih. Insya Allah . . .

Jumat, 24 Juli 2009

TAKUT DAN HARAP

Berkata Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy dalam bukunya Mukhtashar Minhajil Qashidin : Keutamaan segala sesuatu sesuai dengan dukungannya dalam meraih kebahagiaan, yaitu bertemu Allah Ta'ala (di Surga), serta dekat kepadaNya. Segala yang mendukung kepada tercapainya kebahagiaan tersebut, maka itu adalah suatu keutamaan.

Allah Ta'ala berfirman yang maknanya, Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga [1447]. (QS. 55:46)
[1447]. Yang dimaksud dengan "dua surga" di sini ialah surga untuk manusia dan surga untuk jin. Ada juga ahli tafsir yang berpendapat surga dunia dan surga akhirat.

Dan Allah Ta'ala berfirman yang maknanya, Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya. (QS. 98:8)

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang maknanya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "demi KeagunganKu demi KemuliaanKu, Aku tidak akan menyatukan pada seorang hamba dua rasa takut, dan Aku tidak akan menghimpun padanya dua rasa aman. Jika dia merasa aman kepadaKu di dunia, Aku akan membuatnya takut di hari kiamat. Dan jika dia takut kepadaKu di dunia, Aku akan membuatnya aman di hari kiamat."

Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda yang maknanya, "Dua mata tidak akan disentuh api neraka : Mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan Mata yang terjaga malam2 dalam mengawasi musuh saat perang fii sabilillah"

Ketahuilah pula, bahwa jika ada yang berkata : Mana yang lebih utama, Takut atau Harap?
Maka itu seperti perkataan : Mana yang lebih utama, Roti atau Air?

Dan jawabannya : bagi orang yang lapar roti lebih baik, sedangkan untuk orang haus air lebih baik. Jika keduanya bersatu, dilihat yang lebih dominan. Jika sama-sama takut lapar dan hausnya, maka roti dan air setara kebaikannya.

Khauf (Takut) dan Rajaa (Harap) adalah dua obat yang dengannya qalbu tersembuhkan. Maka keutamaan keduanya tergantung penyakit yang ada di qalbu. Jika yang dominan di qalbu merasa aman dari rencana Allah (QS. 7:99), maka Khauf lebih utama. Sedangkan jika banyak maksiat sehingga putus asa dari rahmat Allah, maka Rajaa lebih utama. Namun secara keseluruhan boleh juga dikatakan bahwa : Khauf lebih utama dari Rajaa, karena secara umum lebih banyak orang yang tertipu penyakit "aman".

Akan tetapi jika dilihat dari sisi nilainya, Rajaa lebih bernilai dari Khauf. Karena Rajaa berharap pada Rahmat Allah, sedangkan Khauf adalah Takut pada Murka Allah. (Sedangkan RahmatNya lebih besar dari KemarahanNya).

Adapun orang yang bertaqwa, maka sebaiknya seimbang antara Takut dan Harap. Jika dikatakan : Semua orang masuk Surga kecuali satu orang, hendaknya dia takut menjadi yang satu itu. Jika dikatakan : Semua orang masuk Neraka kecuali satu orang, hendaknya dia berharap dirinyalah orang tersebut.

Jika ditanyakan : Bagaimana Takut diseimbangkan dengan Harap pada diri orang yang beriman, padahal dengan ketaqwaannya, bukankah seharusnya Harap lebih dominan?

Jawabnya : karena kita tidak tahu apakah ketaqwaan tersebut diterima Allah, sehingga selalu harus menyertakan rasa takut dalam beramal baik (QS. 23: 60-61).

Kesimpulan : Senantiasa perkuatlah rasa Takut atas Harap agar terus terdorong meningkatkan amal kebaikan (QS. 23:60-61), kecuali saat dosa-dosamu membuatmu putus asa atau saat hampir berakhir kesempatanmu 'tuk beramal.

Dari catatan Ust. Abuyahya

Selasa, 09 Juni 2009

D. Sumbangkan Ilmu Pengetahuan

Sedikitpun, jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Semua ini perlu dilakukan agar orang lain bertambah ilmu, wawasan, pengalaman, dan kemampuannya. Kita harus amanah terhadap ilmu dan pengalaman, dengan cara menyalurkannya bagi kesuksesan orang lain.

Ingat! Ciri kesuksesan kita adalah ketika diri kita menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain. Oleh karena itu, teruslah menimba ilmu yang lebih luas lagi. Latihlah diri lebih bersungguh-sungguh, agar kemampuan kita maksimal dalam membantu serta menolong orang lain.

Itulah beberapa sent bergaul yang perlu kita miliki. Insya Allah, jika hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas, maka kebahagiaan dalam bergaul dengan siapa pun akan terasa nikmat. Bukankah sebuah kenikmatan tersendiri bila kita bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, apalagi itu diniatkan karena Allah semata?


Sumber : MQS Publishing

C. Selalu Menolong dengan Segala Cara

Bersegeralah menolong seseorang dengan segenap kemampuan, baik berupa harta, tenaga, waktu atau setidaknya perhatian yang tulus untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Setiap kali kita bisa menolong seseorang, berarti kita telah menabung untuk mendapatkan pertolongan Allah. Sesungguhnya, kesempatan menolong orang lain hanya ada jika Allah yang Maha-agung, memberi kesempatan kepada kita.

Andaikata kemampuan menolong secara fisik sangat terbatas, maka tolonglah dengan taburan doa. Percayalah, tidak ada kebaikan sekecil apa pun, kecuali diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah Swt.


Sumber : MQS Publishing

B. Saling Berkirim Hadiah

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang dan perhatian. Maka, sediakanlah selalu anggaran untuk bisa memberi. Walaupun ala kadarnya. Jangan pernah takut kekurangan, hanya karena memberi sesuatu.
Allah Mahakaya. la benar-benar menjanjikan ganjaran dan jaminan, "tidak akan miskin buat orang-orang yang dengan hati tulus bersedekah".


Sumber : MQS Publishing

A. Rajin Bersilaturahmi

Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan. Walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang sangat mendalam. Apalagi kalau membawa tanda mata, oleh-oleh atau hadiah ringan lainnya. Insya Allah, semua itu akan menumbuhkan kasih sayang.

"Innamal mu'minuuna ikhwah", Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara.


Sumber : MQS Publishing

My Friends

TESTIMONI

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons